Langsung ke konten utama

EKONOMI RAKYAT, DEMOKRASI DAN PERA OLIGARKI DI PAPUA

 EKONOMI RAKYAT, DEMOKRASI DAN OLIGARKI DI PAPUA 

_________________________________________

Oleh. Jack Kogoya 

[ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP KK) Jember]

Doc: ilustrasi fenomena 
Sumber: Tabloid Jubi

Kaum berkuasa harus senantiasa bersatu agar oligarki tetap berjaya, rakyat harus dipecah-belah agar tidak punya kekuatan untuk menggulingkan penindasnya. Untuk itu, oligarki di masa Yunani kuno harus menggunakan paksaan dan kooptasi untuk menjauhkan demokrasi. Mereka memberi penghargaan pada informan. Juga mencari masyarakat yang sikapnya gampang dipengaruhi untuk duduk di dalam pemerintahan. Mereka disebut: kolaborator/mitra para oligarki

Ada empat macam oligarki

  1.  Oligarki tukang perang, seperti raja-raja yang sifatnya pribadi dan bersenjata
  2. Oligarki oligarki yang berkuasa bersama, seperti mafian, bersifat kolektif dan bersenjata
  3. ologarki sultanik, dengan mencontohkan rezim Suharto di Indonesia, yang mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya lewat relasi pribadi dan patron-klien.
  4. Oligarki sipil.  Oligarki sipil, ditegakkan lewat senjata dan paksaan, tetapi intervensi tidak langsung para oligarki terhadap kekuasaan/Negara. Kekuasaan itu ditegakkan dengan hukum dan pemilu, bukan dengan senjata. 

Dari empat macam oligarki tersebut Disini sa akan uraikan oligarki sipil menurut perspektif saya sehingga para pembaca sekalian jangan lupa memberikan sumbangsih nya melalui kritikan dan saran. 

Kenyataan hidup rakyat Papua tidak terlepas dari peran permainan para oligarki yang berkuasa, ketika melihat dengan kacamata demokrasi dan ekonomi politik, didalamnya terdapat kebijakan-kebijakan yang melanggar nilai-nilai demokrasi undang-undang dasar RI. namun pada hakekatnya mereka kemudian mendesign dan membuat rakyat pribumi hidup bergantung kepada penjajah, suapaya mereka tetap jadi tuan tanah dan pribumi adalah budaknya.

Pelanggaran HAM dan pembungkaman ruang demokrasi bagi rakyat Papua yang sering terjadi membuktikan bahwa ada indikasi suatu upaya untuk melanggengkan kekuasaan oligarki yang menghisap dan menjajah rakyat Papua.

Upaya pembunuhan demokrasi dan mengambil hati rakyat Papua, para oligarki melakukan beberapa uapaya adalah sebagai berikut:

  • merancang undang-undang otonomi khusus dan mengkampanyekan bahwa Otsus bermanfaat bagi rakyat Papua 
  • program beasiswa adem, afirmasi dan up4b  
  • Program pengangkatan TNI polri DPRD jalur Otsus 
  • Pembangunan stadion atau gedung-gedung besar 
  • Infrastruktur dan lain-lain

Sehingga rakyat Papua mengucapkan terimakasih dan memuji para oligarki/kaki tangan penjajah kolaborator/mitra para oligarki berperan aktif melalui seluruh sektor sendi kehidupan rakyat, baik itu para elit lokal hingga desa dan ormas-ormas ciptaan penguasa, sehingga rakyat diadu domba dalam berbagai macam situasi kehidupan masyarakat Papua.

Mereka membangun sistim hukum yang condong menguntungkan mereka. Sehingga, seringakali tindakan ilegal mereka tidak terjerat hukum. Perampokan melalui perusahaan-perusahaan di Papua adalah kepentingan segelintir oligarki dan kapitalis yang dilegalkan melalui undang-undang yang diciptakan oleh mereka.

Ketika rakyat pemilik tanah adat Papua merontak mereka akan melakukan remiliterisasi kemudia membunuh rakyat Papua yang melawan. Agar pembunuhan terhadap warga sipil pemilik hak Ulayat tersebut tidak dikecam oleh rakyat lain, penguasa memberikan label terhadap rakyat Papua. Contohnya seperti separatis, KKB, KKSB KSTP, teroris dll.. hal ini dilakukan supaya rakyat yang dibunuh tidak perlu dibicarakan soal HAM-nya sehingga kepentingan oligarki kapitalis terus berjalan.

Mereka mempertahankan semua itu lewat pendanaan kampanye (sistim cukong) dan lobi-lobi politik, yang menyebebabkan ada pengaruh yang tak semestinya terhadap kebijakan. 

Dalam oligarki sipil, tindakan dan perilaku itu dipertahankan tidak dengan laras senjata, tidak melalui kata-kata satu orang yang dihormati, melainkan dengan aturan hukum. 

Jika oligarki berkuasa karena berhasil melembagakan kekuasaannya lewat hukum, media, dan ritual politik, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana demokrasi bisa menang Atau rakyat Papua bisa bebas Dari penindasan?

Winters bilang, kekuasaan politik bergantung pada kekuasaan ekonomi. Artinya, oligarki bisa dilemahkan, bahkan dihilangkan, kalau masyarakat juga bisa lebih setara secara ekonomi. 

Masalahnya, tentu saja, jika oligarki masih berkuasa, mungkinkah mereka mentoleransi kebijakan yang jelas-jelas akan mengurangi kekayaan mereka dan membuat masyarakat lebih setara.

Selama mereka bisa membuat rakyat terpecah-belah, terpolarisasi, saling pukul diantara rakyat sendiri, membedakan pantai gunung, tentu saja oligarki tidak akan takut kalau hanya diprotes atau didemo oleh segelintir aktivis. Perlu rakyat Papua dan Papua barat menyatakan sikap politik untuk bersatu dan melawan penjajah.

Karena jika rakyat Papua dan Papua barat tidak sadar lalu melakukan perlawanan maka akumulasi dari upaya-upaya penjajah akan berdampak pada kepunahan dan kebinasahan bangsa west Papua. 

Simonton menawarkan solusi lain. Menurut dia, demokrasi bisa mengalahkan oligarki di masa Yunani kuno karena “oligarki terpecah/terbelah”. Institusi oligarki pelan-pelan membusuk dan runtuh. Ketika kerjasama dan persatuan di kalangan oligarki mulai runtuh, ada peluang bagi demokrasi untuk mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat.

Pada momen seperti itu, rakyat jelata sangat solid dan bersatu dalam rentang yang lama, sehingga energi protesnya mengarah pada kekuasaan.

Melihat pergolakan politik hari-hari ini, sulit untuk tidak berpikir bahwa pada momen inilah masa depan sistim politik sedang diperebutkan sebagaimana terjadi dari generasi ke generasi.

Referensi.

  1. Ganesa sitaraman "The Crisis of the Middle-Class Constitution: Why Economic Inequality Threatens Our Republic
  2. Tulisan ini sebelumnya post akun pribadinya kamrade jeck Kogoya Facebook

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK-Surabaya. Selasa, 25 Mei 2021

Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK-Surabaya. Selasa, 25 Mei 2021 Doc Dokumentasi AMP KK Surabaya Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Amakanie, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak  Waw.awawawawa...wa...wa...wa...wa! 1. Bebaskan Victor F. Yeimo, Ronald Levi, Kelvin Mondala dan seluruh tahanan politik Papua tanpa syarat. 2. Hentikan Kriminalisasi terhadap seluruh aktivis Papua. 3. Tarik Militer organik dan Non-organik dari seluruh tanah Papua. 4. Buka akses jurnalis di seluruh tanah Papua. 5. Mengutuk keras tindakan ormas reaksioner yang melakukan intimidasi dan teror terhadap mahasiswa Papua di Malang dan seluruh Indonesia 6. Segera cabut pelabelan teroris terhadap TNPB/OPM pada umumnya orang asli Papua (OAP). 7. Tolak Otonomi Khusus jilid 2  8. Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri, sebagai solusi demokratis bangsa Papua.

Kaum Buruh dan Muda, Derita Kita Sudah Seleher!

  Kaum Buruh dan Muda, Derita Kita Sudah Seleher ! “ Kerja sebagai pencipta nilai-guna, adalah prasyarat eksistensi manusia … sebuah kebutuhan alami yang abadi yang menjadi prantara metabolisme antara manusia dan alam.” (Karl Marx) Doc: Arah Juang “Kerja adalah aktivitas hidup kita yang utama. Sejak usia masih sangat muda, kita telah bersiap-siap untuk itu. Seluruh kegiatan bersekolah kita . untuk itu. Kita menghabiskan seluruh kehidupan aktif kita di dalamnya. Kerja adalah basis yang melandasi seluruh masyarakat. Tanpanya, tidak akan ada makanan, minuman, pakaian, rumah, sekolah, kebudayaan, maupun ilmu-pengetahuan. Dalam makna yang paling nyata, kerja adalah hidup itu sendiri. Merampas hak bekerja seseorang tidak hanya berarti merampas haknya untuk mendapat standar hidup minimum. Merampas hak bekerja seseorang sama saja dengan melucuti harga dirinya, memisahkannya dari masyarakat beradab, membuat hidupnya sia-sia dan tak bermakna. Ketiadaan lapangan kerja adalah kejahatan terhada...

HUKUM INDONESIA TAK BERLAKU DI PAPUA

Hukum Indonesia Tak Berlaku Di Papua Doc: suara berengga agi               Bangsa adalah penjajah, bangsa tidak berdiri sendiri, bangsa berdiri karena tanah, hutan, dan manusia, namun secara objektif dan realita hari ini tidak ada apa-apanya di mata bangsa, manusia dicap sebagai binatang buas yang berkeliaran di bumi , hingga negara Indonesia dengan kekuatan militer menguasai setiap wilayah di seluruh tanah Papua. Tujuannya adalah untuk membuka diri terhadap imperialisme, kapitalisme, kolonialisme untuk menguasai sumber daya alam. Akibatnya rakyat bertindak untuk melindungi kekayaan alamnya, namun negara diperintahkan untuk mengintimidasi, mengkriminalisasi, menjajah, memenjarakan dan membunuh pasukan yang menentang sistem kolonial. Hal ini tidak adil karena setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapatnya di depan umum, namun sampai saat ini undang-undang dasar 1945 pasal 28A - 28J Tetang Hak Asasi Manusia ( HAM ), itu sendiri tidak ...

PERNYATAAN SIKAP PETISI RAKYAT PAPUA (PRP) DAN ALIANSI MAHASISWA PAPUA KOMITE KOTA JEMBER (AMP-KK JEMBER)

Gambar: dengan tuntutan aliansi mahasiswa papua kk jember   PERNYATAAN SIKAP PETISI RAKYAT PAPUA (PRP) DAN ALIANSI MAHASISWA PAPUA KOMITE KOTA JEMBER (AMP-KK JEMBER) TOLAK OTONOMI KHUSUS JILID II Lawan Rasisme, Bebaskan Viktor Yeimo dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Rakyat West Papua Salam pembebasan nasional Papua barat.  Amolongo, nimo, koyaoo, koha, kosa, amakanie, kinaonak, yepmum, Dortmund, tabea mufa, walak, foi moi, wainambei, nayaklak, wa wa wa Penangkapan terhadap Juru Bicara Petisi Rakyat Papua yang juga Juru Bicara Internasional Komite  Nasional Papua Barat (KNPB), Viktor F. Yeimo dengan dalil kasus Rasisme 2019 adalah  bukti Negara Indonesia kembali menghidupkan isu rasial di kalangan rakyat Papua dan rakyat Indonesia. Seperti yang diketahui bahwa kasus rasisme tersebut telah dijalani di hadapan hukum, setelah proses hukuman selama belasan bulan penjara. Putusan Majelis Hakim di Pangadilan Negeri Balik Papan, Kalimantan, kepada tujuh tahanan r...